Temperatur – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate berencana melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak mulai tahun depan.
Hal ini dikatakan kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Ternate, Thamrin Marsaoly, Minggu 3 Mei 2026.
Thamrin menjelaskan, Musrenbang anak merupakan wadah bagi anak-anak untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap pembangunan daerah khususnya Kota Ternate.
“Kami berencana tahun depan membuat satu musrenbang baru, yaitu Musrenbang Anak. Musrenbang Anak akan berada di bawah DP3A,” katanya.
Menurutnya, rencana ini sejalan dengan tuntutan peraturan paerah (perda) tentang Kota Ternate Ramah Anak. Yang mana mengharuskan keterlibatan anak dalam proses pembangunan.
“Karena mereka adalah generasi emas. Mereka harus diberi ruang untuk berkreasi dan menyampaikan pemikiran bagi pembangunan daerah,” tutur Thamrin.
Sebelum merencanakan Musrenbang anak, Pemkot Ternate sudah melaksanakan Musrenbang Komunitas sebagai ruang bagi anak-anak muda menyampaikan ide dan gagasan.
Bahkan Musrenbang komunitas sudah diselenggarakan dalam empat tahun terakhir.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly menerangkan, Pemkot Ternate menghadirkan Musrenbang Komunitas atau Ternate Youth Planner sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk menyampaikan ide dan gagasan.
“Kenapa sampai harus ada forum ini? Karena membanqun kota tidak bisa hanya pemerintah sendiri, Harus ada pelibatan pemuda secara resmi dalam proses perencanaan,” terang Rizal.
Ia menjelaskan, forum ini bukan sekadar diskusi, tetapi ruang kolaborasi nyata yang memungkinkan ide dan gagasan kreatif pemuda dirumuskan untuk masuk dalam dokumen perencanaan dan diusulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Ternate.
“Ini nyata bahwa ada pelibatan ruang komunitas kepemudaan secara resmi untuk menyampaikan ide gagasan mereka. Tradisinya setiap hasil dari Ternate Youth Planner direkomendasikan dan diramu menjadi bagian dari alokasi APBD,” ujarnya.
Rizal menekankan pentingnya orientasi dampak dalam setiap gagasan yang dirumuskan. Menurutnya, pemerintah tidak lagi hanya berbicara pada tataran output, tetapi harus memastikan adanya impact yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita tidak lagi bicara output. Ke depan yang kita rumuskan adalah bagaimana sesuatu yang digali dan direncanakan itu berdampak langsung terhadap masyarakat dan lingkungan,” tegas Rizal.**

Tinggalkan Balasan