Temperatur — Pemandangan berbeda mewarnai pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII di Hotel Bela, Kota Ternate, Jumat 28 Agustus 2026.

Di tengah agenda forum nasional yang mempertemukan para kepala daerah dan delegasi dari berbagai penjuru Indonesia, kain tenun khas Ternate tampil mencuri perhatian.

Para delegasi tampak kompak mengenakan kain tenun khas Ternate yang diproduksi oleh para pengrajin lokal. Balutan kain dengan beragam motif itu tidak sekadar menjadi pelengkap penampilan, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi, kreativitas, dan identitas Kota Rempah.

Bagi Kota Ternate, kehadiran tenun lokal di tengah forum nasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya pengrajin daerah kepada khalayak yang lebih luas.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Ternate, sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ternate, Ny. Hj. Marliza M. Tauhid, mengatakan kain tenun khas Ternate yang dikenakan para delegasi diproduksi melalui proses tradisional hingga menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Menurut Marliza, penggunaan kain tenun oleh para delegasi Rakernas JKPI XII menjadi momentum penting untuk membawa seni kriya Ternate ke panggung nasional.

“Penggunaan tenun ini menjadi momentum berharga untuk mengenalkan keunikan motif dan seni kriya Ternate di panggung nasional,” ujar Marliza.

Dari Kain Tradisional Menuju Peluang Ekonomi

Di balik keindahan kain yang dikenakan para delegasi, terdapat tantangan besar yang masih dihadapi para pelaku industri kerajinan di Kota Ternate.

Marliza menyebutkan, sektor kerajinan masih mengambil porsi relatif kecil dari keseluruhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi binaan Dekranasda Kota Ternate.

Dari total 143 UMKM binaan, baru 20 unit usaha yang bergerak di sektor kerajinan, termasuk para pengrajin tenun khas Ternate.

“Dari 143 binaan Dekranasda, saat ini hanya ada 20 dari sektor kerajinan,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi Dekranasda. Sebab, keberlangsungan industri kerajinan tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana pengrajin mampu menjaga kualitas, mengembangkan desain, mengelola usaha, hingga memperluas pasar.

Upaya membangun industri kerajinan di Kota Ternate sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Rintisan industri kerajinan batik telah dimulai sejak 2017.

Sejak saat itu, Dekranasda Kota Ternate terus memberikan pendampingan kepada para pengrajin, baik dalam aspek teknis maupun manajerial. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu pelaku usaha mempertahankan keberlangsungan usaha sekaligus mengembangkan produk agar mampu bersaing.

Rakernas JKPI Jadi Etalase Produk Lokal

Rakernas JKPI XII kemudian hadir sebagai ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan produk kerajinan Ternate.

Ratusan delegasi yang datang dari berbagai daerah tidak hanya mengikuti rangkaian agenda Rakernas, tetapi juga menjadi bagian dari promosi produk lokal ketika mengenakan kain tenun khas Ternate.

Momentum ini dinilai memiliki nilai strategis. Sebab, setiap delegasi yang mengenakan tenun Ternate secara tidak langsung membawa identitas budaya Kota Rempah tersebut ke daerah masing-masing.

Marliza berharap momentum tersebut dapat membuka peluang pasar yang lebih besar bagi para pengrajin lokal.

“Harapannya, produk tenun khas Ternate semakin dikenal luas dan mampu memperluas jangkauan pasar,” ujarnya.

Lebih dari sekadar promosi, penggunaan tenun khas Ternate dalam forum nasional juga diharapkan menjadi pemantik bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Sebab, semakin luas produk lokal dikenal, semakin besar pula peluang terciptanya permintaan, kolaborasi, dan pasar baru bagi para pengrajin.

Ketika Delegasi Terpesona Tenun Ternate

Apresiasi terhadap tenun khas Ternate datang langsung dari para delegasi yang mengenakannya.

Salah satu delegasi dari Kota Singkawang mengaku terkesan dengan karakter kain tenun Ternate yang dinilainya memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan tenun dari daerah lain.

“Corak tenun berbeda dari daerah-daerah lain, kemudian kain juga nyaman digunakan,” ucapnya.

Kesan serupa disampaikan delegasi dari Kota Ambon. Baginya, penggunaan tenun dalam rangkaian Rakernas JKPI XII menjadi pengalaman sekaligus pengetahuan baru.

Ia mengaku sebelumnya belum mengetahui bahwa Ternate memiliki produk tenun khas dengan beragam motif.

“Kami baru tahu kalau di Ternate juga ada tenun khas Ternate. Motifnya beragam dan sangat indah,” katanya.

Apresiasi tersebut menjadi gambaran bahwa karya pengrajin lokal memiliki daya tarik ketika diberi ruang untuk tampil dan dikenalkan.

Di Hotel Bela pada Jumat itu, tenun Ternate bukan hanya melekat di tubuh para delegasi. Ia membawa pesan tentang identitas, tradisi, dan harapan para pengrajin untuk terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Dari tangan-tangan pengrajin lokal, sehelai kain kemudian menjelma menjadi cerita tentang Kota Ternate—tentang warisan budaya yang terus dirawat, kreativitas yang terus tumbuh, dan potensi ekonomi kreatif yang masih terbuka luas.

Melalui Rakernas JKPI XII, tenun khas Ternate mendapat panggung yang lebih besar. Dan dari panggung itu, Kota Rempah kembali memperkenalkan salah satu kekayaan budayanya kepada Indonesia. **