Temperatur — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Muhammdiyah Maluku Utara (UMMU), menemukan spesies baru di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara.

Penelitian di Pulau Bacan mengungkapkan keragaman hayati yang luar biasa dengan 9 catatan sebaran baru untuk keong darat, termasuk penemuan 1 spesies baru yang diberi nama Diancta batubacan sp. nov. 

Ekpedisi ini dimulai pada tahun 2022, dimana, mencatatkan 27 spesies dari 11 famili, dengan spesies Trochomorpha ternatana menjadi yang paling melimpah. Temuan ini menambah jumlah spesies keong darat yang dikenal di pulau tersebut menjadi 56, sekaligus memberikan gambaran lebih dalam mengenai pentingnya keberagaman biota di kawasan Wallacea ini.

Sebagaimana diketahui, Pulau Bacan merupakan bagian dari kawasan Wallacea yang dikenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk keong darat. Penelitian tentang biota di pulau ini dimulai sejak eksplorasi Alfred Russel Wallace pada tahun 1858–1859, yang mengumpulkan berbagai spesimen, termasuk keong darat.

Koleksi Wallace kemudian dikaji oleh Pfeiffer (1861), yang mendeskripsikan beberapa spesies seperti Helix ignescens dan Helix batchianensis yang kemudian menjadi sinonim Trochomorpha ternatana. Sebanyak 15 kajian yang mencatat keberadaan keong darat di Pulau Bacan telah dilakukan dalam rentang waktu 1861 hingga 1963.

Ekspedisi tim peneliti BRIN dan UMMU berhasil mengoleksi 555 spesimen yang terdiri dari 27 spesies keong darat. Seluruh spesimen keong darat yang ditemukan di Pulau Bacan disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah, BRIN, Cibinong.

Berdasarkan hasil telaah dari koleksi spesimen dan literatur hingga tahun 2024, penelitian ini berhasil mencatat sebaran baru untuk sembilan spesies keong darat dan satu spesies baru yang belum pernah dikenal sebelumnya, yaitu Diancta batubacan sp. nov.

Peneliti Pusat BRIN Ayu Savitri Nurinsiyah (kedua dari kanan) dan Tim serta Peniliti UMMU Ibnu Laitupa (kedua dari kiri)

Penemuan ini menjadikan jumlah total spesies keong darat di Pulau Bacan meningkat menjadi 56. Diantara 56 spesies, sebanyak 13 spesies keong darat tercatat hanya ditemukan di Pulau Bacan. Spesies Trochomporpha ternatana menjadi spesies yang paling melimpah ditemukan.

“Penemuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Pulau Bacan menjadi rumah yang baik bagi keanekaragaman hayati Indonesia termasuk keong darat, dan masih banyak keragaman hayati disana yang belum sepenuhnya terungkap,” ujar Peneliti Pusat BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah, Kamis (1/5/2025).

Penelitian ini dilakukan di lima lokasi yang mewakili keragaman habitat di Pulau Bacan, mulai dari kebun dan semak-semak hingga hutan karst yang unik. Lokasi-lokasi ini dipilih untuk memahami keragaman habitat Pulau Bacan. Jumlah spesies keong darat paling banyak tercatat pada kawasan karst yang memiliki tutupan hutan, lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian.

“Ini menegaskan bahwa hutan karst memiliki peran penting dalam mendukung populasi keong darat,” tambah Ayu.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya survei sistematis dan identifikasi integratif untuk memahami keragaman dan pola biogeografi keong darat di Maluku Utara, khususnya Pulau Bacan.

“Penelitian ini tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang keanekaragaman hayati, tetapi juga memberikan gambaran lebih lengkap mengenai distribusi spesies di kawasan Wallacea,” pungkas Ayu.

Untuk diketahui, Peneliti Pusat BRIN Ayu Savitri Nurinsiyah melakukan ekpedisi di Pulau Bacan bersama UMMU yang diwakili oleh Peneliti Ibnu Wahab Laitupa. (red)

temperatur.id
Editor