“Periode Januari-Juli 2026 Penimbangan Sampah Anorganik Capai 16 Ton”
Temperatur – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate melalui Bidang Persampahan mencatat penimbangan sampah anorganik domestik melalui Bank Sampah per Januari hingga Juli 2026 mencapai 16.591 kg (16 ton).
Berikut tabel rekapan penimbangan DLH Kota Ternate per Januari-Juli 2026:

Plt Kepala DLH Kota Ternate, Musli Mohammad menyampaikan, penimbangan sampah tersebut dilakukan pada nasabah bank sampah, yakni: masyarakat, sekolah, kantor, SPPG, transdepo dan TPS3R.
“Penimbangan dilakukan oleh tim bank sampah DLH Kota Ternate yang selanjutnya dijual ke pengepul sampah atau offtaker,” kata Musli, Rabu 22 Juli 2026.
Musli menjelaskan, setiap hari petugas dari bidang persampahan melakukan penimbangan sampah di setiap lokasi nasabah bank sampah.

Sampah yang ditimbang adalah sampah-sampah yang bisa didaur ulang, seperti plastik, kertas, kardus dan sebagainya. (selengkapnya lihat tabel rekapan di atas)
“Ini berjalan terus setiap hari,” ujarnya.
Sampah-sampah yang ditimbang itu diakumulasi melalui rekapan akhir bulan dan dilaporkan juga ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).
“Jadi kita laporkan ke SIPSN terkait dengan jumlah pengurangan pemilahan sampah yang dilakukan di Kota Ternate,” terang Musli.
Ia menyebut, penimbangan terhadap sampah yang bisa didaur ulang melalui Bank Sampah merupakan upaya atau inovasi DLH dalam mendorong pemilahan sampah dari sumber.
Inovasi pengurangan sampah melalui penimbangan berfokus pada pendekatan ekonomi sirkular (bank sampah).
Sampah anorganik ini nantinya dipilah dan ditimbang untuk dikonversi menjadi poin, saldo digital, atau uang tunai.
Hal ini tentunya memotivasi masyarakat untuk mengurangi volume buangan sampah dan beban daya tampung TPA sekaligus mendorong upaya dan budaya untuk membiasakan memilah sampah langsung dari sumbernya.

Dengan harapan pesan-pesan lingkungan yang sampai ke masyarakat adalah bahwa ada jenis-jenis sampah yang tidak harus dibuang karena bisa bernilai ekonomis.
“Karena dari Bank Sampah itulah sampah-sampah tersebut dikonversi menjadi nilai ekonomis setelah dijual ke offtaker. Dan nanti uangnya kembali ke mereka (nasabah bank sampah),” kata Musli.
“Pada intinya kita berupaya melakukan pengurangan sampah dari sumber,” tandas Musli. **

Tinggalkan Balasan