Temperatur – Di tengah suasana khidmat upacara penurunan Sang Merah Putih, Senin 17 Aguatus 2026, satu sosok pelajar mencuri perhatian di Lapangan Ngara Lamo, Soa Sio, Kota Ternate.
Namanya Naylah Refornisa Marsaoly. Dengan langkah tegap dan wajah penuh konsentrasi, siswi SMA Negeri 8 Kota Ternate itu berjalan membawa baki. Di atasnya, sebuah tugas penting menanti untuk ditunaikan—menjadi bagian dari prosesi penurunan Bendera Sang Merah Putih dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi sebagian orang, tugas itu mungkin hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun bagi Naylah, momen tersebut menyimpan makna yang jauh lebih panjang.
Ada kebanggaan, tanggung jawab, sekaligus rasa haru ketika dirinya dipercaya menjadi pembawa baki dalam upacara kemerdekaan di tanah kelahirannya.
Langkahnya dijaga tetap tenang. Pandangannya fokus. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian hingga prosesi penurunan bendera berlangsung lancar dan khidmat.
Naylah adalah bagian dari Tim Paskibraka Kota Ternate yang mengemban tugas dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI dengan semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Di balik penampilannya yang terlihat sederhana, tersimpan proses panjang. Kedisiplinan, latihan, ketekunan, dan kesiapan menjadi bekal yang mengantarkannya berdiri di tengah lapangan, membawa simbol penting dalam sebuah upacara yang diperingati seluruh bangsa.
Lahir di Ternate pada 3 Desember 2009, Naylah merupakan putri dari Ir. Thamrin Marsaoly, SP., M.Sc dan Ludia AB Menangkabau, SKM., MM.
Usianya masih muda. Namun, kesempatan yang diberikan kepadanya menjadi pengalaman yang tidak sederhana.
Menjadi pembawa baki bukan hanya soal membawa sebuah perlengkapan upacara. Ada kepercayaan yang harus dijaga, ada kehormatan yang harus ditunaikan, dan ada simbol perjuangan bangsa yang berada begitu dekat di hadapannya.
Ketika Sang Merah Putih perlahan diturunkan, Naylah menjalankan perannya hingga tuntas.
Mungkin bagi banyak orang, momen itu akan berlalu bersama berakhirnya upacara. Tetapi bagi Naylah, hari itu akan menjadi salah satu halaman penting dalam perjalanan hidupnya—hari ketika seorang pelajar Ternate berdiri mengambil bagian dalam sejarah kecil perayaan kemerdekaan di kotanya.
Dari langkah seorang Naylah, kemerdekaan kembali menemukan maknanya dalam wajah generasi muda.
Sebab, menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari keberanian mengambil tanggung jawab, menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, dan berdiri tegap ketika Sang Merah Putih dikibarkan maupun diturunkan.
Dan hari itu, di Lapangan Ngara Lamo, langkah kecil seorang pelajar menjadi bagian dari cerita besar tentang Indonesia yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. **



Tinggalkan Balasan